Selasa, 18 Juni 2013

What's Wrong With Us ? (BBM)

Ok sob, setelah beberapa hari ini Gw sibuk dengan pekerjaan baru Gw, yaitu TUKANG UPLAOD/MIRROR #Sok Sibuk. Dan Gw puas sih, lihat semua di sini pada seneng karena link yang Gw pakai MIRROR, bersahabat dengan internet sobat-sobat di INDONESIA.

Baiklah, yang akan Gw bahas kali ini, tak lain dan tidak bukan, ya soal ini. Soal yang sekarang lagi nge-HITZ di kalangan rakyat INDONESIA. Yang lagi HOT diperbincangkan di semua stasiun TELEVISI.
Ya sobat tau kan, kali Gw bahas soal KENAIKAN HARGA BBM.



Kenaikan Harga BBM Dari Tahun Ke Tahun

Soeharto :
1991: Rp 150 naik jadi Rp 550
1993: Rp 550 naik jadi Rp 700

BJ Habibie :
1998: Rp 700 naik jadi Rp 1.200

Abdurrahman Wahid :
1998: Rp 1.200 turun ke Rp 1.000
1999: Rp 1.000 turun jadi Rp 600
2000: Rp 600 naik ke Rp 1.150

Megawati Soekarnoputri :
2001: Rp 1.150 naik ke Rp 1.450
2002: Rp 1.450 naik jadi Rp 1.550

Susilo Bambang Yudhoyono :
2004: Rp 1.500 naik jadi Rp 1.810
2005: Rp 1.810 naik jadi Rp 2.400
2005: Rp 2.400 naik jadi Rp 4.500
2008: Rp 4.500 naik jadi Rp 6.000
2008: Rp 6.000 turun ke Rp 5.500
2008: Rp 5.500 turun ke Rp 5.000
2009: Rp 5.000 turun ke Rp 4.500
2013: Rp.4.500 naik jadi Rp.6.500


Kenaikan harga BBM ini, dinilai BURUK oleh beberapa masyarakat. Dinilai malah akan membuat rakyat semakin susah menjalankan hidup. Tapi, pernyataan itu LEBAY juga sih sebenarnya.
Ya ini sebelumnya Gw mengucapkan minta maaf kepada seluruh sobat yang membaca postingan ini. Karena, ya mungkin saja ada yang tersinggung. Tapi seebenarnya, Gw hanya ingin menyadarkan sobat semua aja.

Hhmm, dikalangan remaja, kenaikan BBM tentu menjadi masalah BESAR. Sobat tau kenapa? ya sudah jelas, masa REMAJA adalah masa-masa di mana sobat semua punya MOTOR, pamer MOTOR (uuppss), kemana-mana pakai MOTOR. Iya gak ? Apalagi yang sudah punya PACAR, ya pasti kemana-mana serba MOTOR.
Tentu saja dikalangan REMAJA, kenaikan ini mendapat respon NEGATIV. Sudah jelas itu, ya karena ke-serbaan MOTOR mereka akan terganggu. Apabila ditambah motor yang mereka punya itu boros (u know lah motor apa saja). Sudah uang saku terbatas (dikit) ditambah lagi BBM yang naik harga.

Dikalangan Dewasa sekarang (terutama para IBU). Sudah jelas juga mendapat respon NEGATIV. U KNOW lah, pasti harga yang lain ikut naik. Sayur, daging, beras dll naik.
Mana gaji suami dikit ditambah harga kebutuhan pokok ikut naik. Pasti mengeluh.

Dikalangan rakyat biasa (NORMAL) sudah. Tapi bagaimana pendapat dikalangan saudara kita di PAPUA sob ?
Nih, lihat saja

Nah, sobat bisa ambil kesimpulan sendiri.
Ditambah pernyataan ini

JAKARTA - Bank Indonesia (BI) meyakini dampak positif pada kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi akan dirasakan dalam kurun waktu 1-2 tahun ke depan, kenaikan BBM dalam kurun waktu tersebut akan mampu menciptakan surplus neraca pembayaran dan penguatan pada nilai tukar rupiah.

"Untuk dampak kenaikan pada harga BBM jangan dilihat dari jangka pendek dua-tiga bulan saja, karena dampaknya pasti negatif dengan adanya inflasi," ujar Gubernur BI Darmin Nasution usai acara penandatangan nota kesepahaman antara mendagri dengan gubernur BI di Gedung Sasana Bhakti Praja, Kemendagri, Jakarta, Senin (6/5/2013).

Darmin mengatakan, jika kita hanya melihat kenaikan harga BBM bersubsidi pada jangka waktu panjang, justru hal tersebut dampak positifnya akan lebih besar. Dalam waktu setahun atau dua tahun, kebijakan tersebut akan terus mengarah pada surplus neraca pembayaran dan penguatan nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing.

"Dalam jangka yang lebih panjang setahun atau dua tahun pada dampak BBM itu akan baik. Misalnya saja pada neraca pembayaran akan terus membaik, maka tekanan pada nilai tukar rupiah juga bisa berkurang dan persepsi dari pasar nanti akan berkurang atau menjadi baikan," tukasnya.

Darmin menjelaskan, di saat kita sedang mengkaji kenaikan harga BBM perlu untuk membedakan dampak yang akan terjadi secara jangka pendek atau panjang.

"Kalau setahun atau lebih, dampaknya akan bagus, tapi kalau hanya dilihat dua atau tiga bulan, ini tentu tidak bisa dihindarkan dampak negatifnya. Itukan dinamika masalah ekonomi, dua atau tiga bulan berpengaruh negatif, habis itu ada adjustment," imbuhnya.

Menurutnya, sejauh ini BI telah mempersiapkan sejumlah kebijakan untuk menyikapi keputusan pemerintah soal pengendalian konsumsi BBM. Selain itu, ada juga kebijakan BI yang mengacu pada respons masyarakat dalam menghadapi kebijakan pemerintah nantinya.

"Maksudnya itu bagaimana besarnya inflasi dua-tiga bulan pasti akan mempengaruhi bagaimana BI membuat kebijakan itu. Tentu saja kenaikan BBM akan menaikkan inflasi, cuma seberapa besarnya kami mempunyai perkiraan tersebut.  Kenaikan harga BBM itu bukan sesuatu yang harus  dikhawatirkan dalam jangka waktu dua tiga bulan tapi lihat jangka panjangnya," tutup Darmin.
(sumber)


Nah, kalo menurut Gw, biar pemerintah gak salah, biar seluruh Indonesia harganya, harga BBM dinaikkan. Jadi, bisa menghemat keuangan negara. Dan bisa meringankan sodara kita di papua. No Bacot, Skill Only. Itu yang pemerintah pegang. No skill, Bacot Only. Itu yang rakyat pegang. Sekarang kalau pemerintah mau melakukan perubahan, tapi takyatnya pada protes? Y gak bakal jadi. Harusnya, bawahan itu ngikut atasan (Hal Baik tentunya). Makanya, kalau ingin merasakandan tidak OMDO. Ikut organisasi. jangan hanya OMDO sob. Harap makluk, Pulau banyak yang sedang berkembang. Wajar kalau ada penurunan dan peningkatan harga.

#JustForFun
#WARR


3 komentar: